Address
Graha Melasti Bekasi - Jawa Barat
Jam Kerja
Senin - Jum'at 09.00 - 18.00
Weekend: 09.00 - 19.00
Address
Graha Melasti Bekasi - Jawa Barat
Jam Kerja
Senin - Jum'at 09.00 - 18.00
Weekend: 09.00 - 19.00

Di artikel sebelumnya kita sudah bahas cara setup Claude AI biar hasilnya maksimal — dari mengaktifkan Memory, memakai Projects, sampai trik-trik kecil yang jarang diketahui. Sekarang, mari masuk ke praktik: bagaimana sebenarnya Claude bisa dipakai untuk riset kompetitor dan menemukan ide konten, bukan sekadar “tanya lalu tempel jawaban”.
Banyak orang berhenti di level “Claude, buatkan 10 ide konten tentang digital marketing.” Hasilnya? Ide generik yang bisa keluar dari AI manapun. Padahal dengan pendekatan yang lebih terstruktur, Claude bisa membantu riset yang jauh lebih tajam.
Ini langkah paling dasar tapi sering terlewat. Tanpa web search aktif, Claude hanya menjawab berdasarkan data pelatihannya yang punya batas waktu — artinya dia tidak tahu tren minggu ini, kampanye kompetitor terbaru, atau perubahan algoritma yang baru diumumkan.
Pastikan toggle web search aktif di pengaturan sebelum kamu minta Claude melakukan riset apa pun yang sifatnya “terkini”. Kalau kamu tanya sesuatu yang berhubungan dengan kondisi sekarang, Claude akan otomatis mencari dulu ke internet, lalu memberi jawaban lengkap dengan sumber yang bisa kamu cek sendiri.
Prompt seperti itu terlalu luas. Claude akan kebingungan mau fokus ke aspek mana. Coba pecah jadi beberapa sudut yang lebih spesifik:
Contoh prompt yang lebih tajam:
“Cari 3 kompetitor utama untuk [nama bisnis/industri] di Indonesia. Untuk masing-masing, cari tahu: (1) jenis konten blog yang paling sering mereka publikasikan, (2) platform media sosial yang paling aktif mereka pakai, (3) satu hal yang menurutmu jadi kekuatan konten mereka dan satu kelemahannya. Sajikan dalam bentuk tabel.”
Kenapa ini lebih efektif? Karena kamu memberi Claude kerangka analisis yang jelas, bukan sekadar “analisis dong”. Semakin spesifik pertanyaanmu, semakin tajam dan actionable jawabannya.
Trik yang jarang dipakai orang: jangan langsung minta “ide konten”, tapi minta Claude menggali masalah nyata yang sering dicari audiensmu dulu, baru turunkan jadi ide.
Contoh alur prompt bertahap:
Cara ini membuat ide kontenmu berangkat dari kebutuhan nyata audiens, bukan sekadar template “10 tips digital marketing” yang sudah terlalu banyak beredar.
Sama seperti dibahas di artikel sebelumnya, buat satu Project khusus untuk riset dan perencanaan konten blog. Unggah:
Dengan begitu, setiap kali kamu minta riset atau ide baru, Claude sudah punya konteks lengkap tentang kontenmu — hasilnya jauh lebih relevan dibanding chat baru yang mulai dari nol setiap kali.
Setelah riset dan ide terkumpul, minta Claude langsung menyusun kerangka artikel, lengkap dengan poin-poin per subjudul. Contoh:
“Dari riset tadi, buatkan kerangka artikel untuk judul ‘[judul terpilih]’. Sertakan subjudul (H2), poin-poin singkat di tiap subjudul, dan rekomendasi panjang idealnya.”
Karena hasil ini biasanya cukup panjang dan akan kamu edit lebih lanjut, Claude otomatis menampilkannya di jendela Artifacts, sehingga kamu bisa merevisinya langsung di sana — tanpa perlu copy-paste bolak-balik di chat.
Beberapa catatan penting supaya risetmu tetap kredibel:
Riset kompetitor dan ide konten dengan Claude akan jauh lebih efektif kalau kamu memecah pertanyaan besar jadi langkah-langkah kecil yang spesifik, mengaktifkan web search untuk data terkini, dan memakai Project supaya konteks bisnismu selalu terbawa di setiap sesi. Hasilnya bukan cuma daftar ide generik, tapi kerangka konten yang benar-benar menjawab kebutuhan audiensmu.
Di artikel berikutnya, kita akan bahas tool-tool AI pendukung digital marketing lain yang bisa dipadukan dengan Claude — mulai dari riset kata kunci sampai otomatisasi konten media sosial.